Rabu, 19 Oktober 2011

KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL

A. Manusia

1. Manusia tidak semata-mata bertujuan memuaskan dorongan-dorongannya, tetapi secara jelas juga termotivasi untuk melaksanakan :
  • Tanggung jawab sosial
  • Pemenuhan kebutuhan untuk mencapai sesuatu
2. Tingkah laku individu ditentukan oleh :
  • Lingkungan
  • Pembawaan
  • Individu itu sendiri
3. Tingkah laku tidak ditentukan oleh kejadian yang di luar individu, melainkan oleh bagaimana individu mempersepsi dan menginterpretasikan kejadian itu :
  • Persepsi dan interpretasi itu membentuk fiksi yang menjadi tujuan bagi tingkah laku individu ---- fictional goal.
  • Life goal, fictional goal menjadi arah dari tingkah laku individu untuk mengatasi kelemahannya dalam mengahadpi kelemahannya dalam menghadapi dunianya.
  • Life style, life goal yang menjadi arah tingkah laku itu akan lebih jauh membentuk life style.
  • Social interest : manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial, dan apapun yang dilakukannya selalu dalam hubungannya dengan kelompok sosial.
B. Kepribadian 

1. Perkembangan kepribadian
  • Dasar kepribadian terbentuk pada usia 4-5 tahun pertama
  • Pada awealnya manusia dilahirkan dengan feeling of superiority.
  • Anak-anak menghadapi lingkungannya dengan kemampuan dasarnya dan menginterpretasikan lingkungannya itu.
  • Dalam hal itu social interestnya pun berkembang
  • Selanjutnya terbentuklah life style yang unik untuk masing-masing individu ---- human individuality yang bersifat :
  1. Self-deterministik
  2. Teleologis
  3. Holistik
  • Sekali terbentuk life style sukar untuk berubah, perubahannya akan membawa kepedihan.
2. Individu sukar menyadari sepenuhnya life style nya sendiri.

C. Kasus

1. Sebab utama TLSS adalah perasaan foi yang sangat ditimbulkan oleh :
  • Cacat mental atau fisik
  • Penganiayaan oleh orang tua
  • Penelantaran. Apabila ketiga hal tersebut dibesar-besarkan maka foi akan semakin berkembang.
2. TLSS adalah hasil dari pengaruh lingkungan, yang pada umumnya berawal dari tingkah laku orang tua sewaktu anak masih kecil. Demikian pula dengan anak yang ditelantarkan.
3. Apabila pada diri anak berkembang situasi tegang karena memuncaknya perasaan foi, maka tingkah laku abnormal mulai berkembang :
   a. Upaya mengejar superioritas yang berlebihan :
       - Terlalu keras sehingga menjadi kaku
       - Perfeksionistik tidak wajar
   b. Social interest terganggu :
       - Hubungan sosial tidak menyenangkan
       - Selfish mengisolasi diri


D. Tujuan
1. Membantu klien mengubah konsep tentang diri sendiri
    a. Menstruktur dan menyadari life style
    b. Mengurangi penilaian negatif tentang diri sendiri dan perasaan inferiornya.
2. Mengoreksi persepsi kllien tentang lingkungannya dan mengembangkan tujuan-tujuan baru yang hendak dicapai melalui tingkah laku klien
3. Membangun kembali social interest

E. Teknik

1. Membangun hubungan yang baik antara klien dengan konselor, jangan sampai klien takut ---- social interest :
   a. Konselor mampu berkomunikasi dengan baik
   b. Objektif
   c. Mampu mendengarkan dengan baik
2. Tiga tahap dalam proses konseling :
  • Mengembangkan pemahaman tentang life goal dan life style klien
  • Menginterpretasikan tingkah laku klien sehingga klien menyadari bagaimana tujuan-tujuan (yang termuat dalam tingkah lkaunya itu) menimbulaknan gangguan ataupun kesulitan
  • Apabila kesadaran tersebut muncul, maka dikembangkanlah social interest klien.
3. Teknik
  • Analisis life style :
     - Memahami cacat fisik dan mental, penganiayaan / penelantaran yang pernah dialami
     - Memahami tingkah laku klien, dalam kaitannya dengan yang diatas.
     - Memahami pola asuh orang tua dimana klien dibesarkan.
     - Mempretasi yang tajam --- hubungan antara poin 1,2 dan 3.
  • Interpretasi early recollections. Konselor mendiskusikan dengan klien ingatan/kenangan klien di masa lampau, pada masa senbelum berumur 10 tahun. Berbagai kejadian dan perasaan terhadap kejadian-kejadian itu dingkapkan. Hasilnya akan memberikan gambaran tentang bagaimana klien memandang diri sendiri , orang lain, dan life style-nya sendiri.
  • Interpretasi: Setelah klien menyadari berbagai hal tentang dirinya, tibalah waktunya klien menyadari “ kesalahan-kesalahan yang mendasar” dalam menajalani hidupnya. Selanjutnya dikembangkan pemahaman-pemahaman baru untuk menghadapi hidup. Untuk ini klien perlu didorong, dibangkitkan keberaniannya untuk menghadapi kehidupannya dengan cara-cara baru yang lebih efektif dan membahagiakan.

    Artikel Terkait Lainnya:



    1 komentar :

    Anonim mengatakan...

    terimakasih gan atas posting nya!

    Poskan Komentar

    silahkan anda berkomentar tapi tetap jaga sopan santun yaaa......!!!